Iklan

Iklan

,

Iklan

Peringati Hari Lingkungan Hidup Dunia, Mapel Aceh : Titi Kuning Rantau Butuh Perhatian Khusus

Redaksi
5 Jun 2024, 13:58 WIB Last Updated 2024-06-05T06:58:17Z
Khairul Fadli Wakil Ketua Yayasan Mapel Aceh Di lokasi Titi Kuning Rantau - Opak Kabupaten Aceh Tamiang


SUARAACEH.ID - Dalam Memperingati Hari lingkungan sedunia Yayasan MAPEL ( Masyarakat Pelestari Lingkungan ) Indonesia Provinsi Aceh menyampaikan bahwa ini adalah sebuah refleksi untuk meningkatkan komitmen bersama antar semua elemen agar permasalahan bencana alam bisa terkondisikan secara perlahan. Rabu, (05/06/2024)

Wakil ketua Yayasan MAPEL Aceh Khairul Fadli mengatakan sangat prihatin melihat kondisi alam Aceh yang seakan menjadi ancaman ketika musim hujan datang. Disela kesibukan nya Khairul masih terus menggelorakan giat menanam dan sosialisasi untuk kepedulian lingkungan .

Disampaikan Khairul sapaan akrabnya efek dari bencana alam di Aceh khususnya Aceh Tamiang menyisakan dilema untuk kepentingan masyarakat yang akan datang , seperti jembatan titik kuning rantau yang merupakan Jalur akses perekonomian rakyat menghubungkan tiga kecamataan di Aceh Tamiang yakni Rantau , Seruway dan karang baru sangat memperihatinkan .

Sebab dikarenakan runtuhnya benteng penahan erosi jembatan rantau atau yang sering disebut Titi kuning menjadi sorotan yang bertahun -tahun kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Foto kondisi Terkini Tiang dibawah Jembatan Titi Kuning Rantau - Opak

Khairul mengatakan erosi ini jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan kerusakan terhadap jembatan serta kerugian besar bagi perekonmian dan keselamatan rakyat apabila terus diabaikan .

" Titi kuning ini rawan ambruk dikarenakan tebing penahan atau sheet pile yg pernah dibuat disalah satu ujung Titi sudah amblas beberapa kli tergerus banjir seperti banjir beberapa tahun yang lalu dan terparah banjir besar ditahun 2022 apakah menunggu banjir datang lagi dan ambruknya Titi kuning ini dan memakan korban sehingga baru menjadi pembahasan oleh para pejabat , " ujar Khairul.

Khairul berharap adanya perhatian dan mendesak khusus pemerintah Aceh untuk turun langsung meninjau lokasi tersebut. Tegasnya. 

Masyarakat sekitar juga mengeluhkan dan khawatir terhadap keberlangsungan jembatan yang menjadi icon khusus Aceh Tamiang tersebut yang diresmikan oleh Direktur Utama P.N Pertamina Let Djen H Dr. Ibnu Soetong pada 17 April 1970.

" Kami berharap pemerintah Aceh menanggapi hal ini untuk meneruskan ke pusat permasalahan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang ada di sepanjang sungai tamiang untuk mencari solusi merealisasikan penanggananan jembatan yg telah berusia sekitar 53 tahun ini " tambah Khairul .

Bukan hanya itu saja menurutnya maraknya perkebunan sawit dan hutan yang terus menerus ditebang harus nya menjadi atensi bersama , pemerintah harus turun kelapangan khusus untuk penyelamatan hutan serta memberikan pengawasan khusus terhadap perusahaan atau penebang liar yang terus mengunduli hutan .

"Aceh juga menjadi langganan banjir maka kita harus gerakan kepedulian terhadap lingkungan kita. Harapan nya momentum gelora Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini tidaklah sebagai seremonial belaka namun menjadi pijakan konkret dalam melestarikan bumi beserta isinya " tutup khairul. **

Iklan